| Impian yang Terwujud bagi Sang Pemimpi |
|
|
|
| Written by Najmi Shoghir |
| Tuesday, 26 January 2010 15:14 |
|
Yah, disinilah aku, menghayati rintik hujan jatuh secara perlahan dihadapanku, langit semakin kelam namun tetap saja terlihat menawan. Sedikitpun sama sekali tak kuhiraukan lalu lalang yang berkelebat di depan mata. Aku merasa hanya seorang diri, ditemani sang hujan yang kini resmi menjadi sahabat baikku, buktinya kini dia turut menetes bersama kelunya hatiku saat itu. Begini rupanya nasib seorang pemimpi yang disadarkan oleh pusaran realita yang begitu menohok. Nyaris saja keraguan yang lebih mendominasi, nyaris saja aku tidak pernah mengingat nikmatnya tercapainya mimpi, bagaimana mungkin kisah yang menginspirasi diri sendiri dan orang lain begitu saja terlupakan. Huh, aku ingin mengurainya kembali, mengumpulkan serpihan semangat yang mulai tak terkendali ini. Perjalanan 07 juli 2009, My Dream Come True “Bosscha Edition”
"Eh bener khan nanti kita mampir ke bosscha?" Mungkin semua orang telah jenuh mendengarnya, namun masih saja mereka menjawab pertanyaan tolol tersebut sambil tersenyum, "Iya ana sayang, insyaAllah hari ini mimpi ana akan terkabul" Sekali lagi semuanya menyadarkanku bahwa hari ini nyata, bahwa hari ini adalah suasana yang dinanti-nanti bagi sang pemimpi seperti diriku. Sebetulnya sangat sederhana, sebentar lagi aku dan ke empatbelas temanku yang lain akan berangkat menuju ITB. Kunjungan kali ini bermaksud menelusuri informasi lebih lanjut seputar cabang ilmu Astrofisika dan Astronomi yang hanya dikembangkan satu-satunya di FMIPA ITB, dan peneropongan bintang Bosscha merupakan salah satu laboratorium observasi yang berada di bawah wewenang departemen Astronomi FMIPA ITB. Lalu kita hanya sekelompok orang nekat yang begitu penasaran dengan pengetahuan seputar gejala fenomena langit melalui pendekatan secara Fisika, namun bukan itu yang menjadi poin utama. Pasalnya hampir semua yang mengikuti kegiatan ini mengetahui bahwa diantara mereka dirikulah yang paling berdebar-debar, bagaimana tidak keinginanku sejak kecil untuk bisa berkunjung ke peneropongan bintang Bosscha Lembang Bandung sesaat akhirnya akan segera terwujud. Baiklah, mungkin kedengaraanya norak. Sampai-sampai tidak jarang ada yang mencemoh tentang impianku tersebut. "Eh Ana, apa sih istimewanya Bosscha lagipula elu jangan lebay ah...deket ini tapi elunya udah yang pengen banget kesana, kayak mau ke luar negeri aja" Ungkapan temanku yang jujur. Ingin rasanya aku lempari dia dengan kamus Bahasa Arab al-Munawwir yang super tebel itu. "Sabar sabar" Batinku berusaha menghibur. Meskipun tempatnya hanya berjarak ratusan kilometer dari tempatku sekarang, dengan waktu tempuh yang memakan waktu kurang lebih 5 jam, namun tetap saja Bosscha bukan sembarang tempat yang bisa aku kunjungi dengan mudah. Tentunya 10 tahun merupakan waktu yang cukup heroik untuk bisa mewujudkan mimpi yang hampir membuatku seperti seorang pembual sejati. Mimpi itu terinspirasi dari sebuah kisah dalam sebuah buku, waktu itu umurku sekitar 9 tahun. Sederhana, buku tersebut menceritakan tentang kisah liburan seorang anak di rumah kakeknya di Lembang Bandung. Dari situ dimulailah petualangan anak tersebut dengan pengetahuan seputar benda langit yang ia peroleh dari observatorium peneropongan bintang Bosscha, satu-satunya peneropongan bintang yang ada di indonesia. Jangan ditanya buku itu berjudul apa atau siapa nama anak yang menjadi tokoh utama, jujur saja aku benar-benar telah lupa. Satu-satunya yang aku ingat adalah bahwa sejak itu aku sungguh terpesona dengan segalanya tentang langit dan Bosscha. Nuansa Belanda mengikuti asal sang pendiri telah berhasil menghipnotisku untuk bisa berkunjung kesana, namun saat itu apalah arti dari setapis mimpi milik anak kecil berusia 9 tahun. Membayangkan saja tanpa bisa menyentuh, selebihnya aku hanya mampu mengukir dengan seindah-indahnya keinginan tersebut dalam hati. Masih teringat jelas bunyi SMS dari kakak kelas beberapa bulan sebelum perjalananku menuju Bosscha, "Jika engkau memiliki sebuah keinginan dan tekad yang kuat, maka jangan khawatir tidak bisa kau capai. sebab sebenarnya seluruh semesta turut serta membantumu mewujudkan keinginan tersebut". Salah satunya mungkin adalah keinginanku yang kuat untuk bisa mengunjungi Bosscha. Barangkali gelombang elektromagnetiknya telah menjalar keseluruh semesta sehingga rasa-rasanya selalu saja ada kesempatan yang tidak disangka-sangka dan terjadi secara kebetulan. Tiga tahun berikutnya tanpa diduga di sebuah film Petualangan Sherina, bentuk peneropongan bintang Bosscha secara visual dengan gamblang ditampilkan, takjub dan sama sekali tidak menyangka bahwa Bosscha yang ingin aku kunjungi bisa terlihat jelas melalui layar kaca, bisa ditebak bahwa pasca film tersebut diluncurkan keinginanku untuk bisa berkunjung ke Bosscha semakin kuat. Selanjutnya adalah 3 tahun setelah Petualangan Sherina diputar adalah nasib yang membawaku merantau menuju kota santri Jombang. Disana aku berkenalan dengan anak Bandung. Kontan saja tanpa basa- basi aku bertanya tentang segala hal terkait Bosscha namun sayang malah jawaban ini yang aku dapat. "Maaf, rumahku jauh dari Lembang jadi meski nanti mau main kerumahku. kita akan ngga bisa mengunjungi Bosscha" Huh, jujur waktu itu sempat kecewa. Tapi harus bagaimana? Yang jelas hampir seluruh orang-orang terdekatku mengetahui tentang keinginanku menuju Bosscha. Waktu kian beranjak, dan tanpa terasa saat itu adalah saat aku harus memutuskan akan melanjutkan kuliah dimana? Entah apa yang ada dipikiranku saat itu. Tanpa ragu sedikitpun tiba-tiba aku mengajukan lamaran PMDK (USMI) ke IPB, dengan jurusan yang sampai saat masih belum aku temukan dengan benar apa alasan utamanya, yang jelas pilihan masuk Fisika telah lulus seleksi dari jawaban istikharah kedua orang tuaku, guruku, dan tentunya diriku sendiri. Sebelumnya aku juga tidak pernah menyangka di Fisika aku belajar banyak tentang perisitiwa langit dan fenomena tantang alam semesta, bahkan aku tidak pernah sadar bahwa jurusanku itu justru sangat dekat sekali dengan Astronomi maupun Astrofisika. Di jurusan aku juga bertemu dengan beberapa teman yang ternyata juga memiliki minat yang cukup tinggi terhadap bidang Astronomi, jadilah perjalananku ke Bandung kali ini tidak lain berkat bantuan teman-teman yang bersedia mengurus segala birokrasi agar kita bisa berkunjung ke ITB dan Bosscha. Dan sekarang subhanallah, disinilah aku berdiri. Takjub berkali-kali mamandang ke arah teleskop besar Zeiss, salah satu teleskop terbesar yang terdapat di peneropongan bintang Bosscha, tidak jauh berbeda dengan perasaan Ikal saat berhasil tiba di negeri impiannya "Edensor". Bagitupun juga diriku saat ini, rasanya hampir tidak percaya bila akhirnya aku berhasil sampai. Entah apa jadinya bila dulu aku tidak pernah memepercayai mimpiku sendiri, mungkin seterusnya aku hanya bisa mencari bukti bukan menjadi bukti itu sendiri. Ini adalah peristiwa teragung bagi sang pemimpi, di sekeliling terlihat begitu indah dan berwarna, angin terasa sepoi-sepoi menyapa perasaanku yang senangnya bukan main, ditambah dengan penjelasan Dosen Guide yang mendampingi saat itu, membuatku mengalami pengalaman pertama kali menggunakan teleskop. Saat ini aku hanya bisa menggunakan teleskop Unitron untuk meneropong Matahari. Dan wow lagi-lagi aku dibuat takjub melihat tata kerja rata-rata teleskop yang pemakaiannya masih manual dan bersifat mekanik. Sayangnya kunjungan tersebut dilakukan di siang hari sehingga aku belum bisa meneropong bintang dengan menggunakan telekop besar Zeiss yang terkenal dengan kubahnya itu. Pelajaran berharga lainnya adalah bahwa saat itu juga, orang-orang yang awalnya sering meremehkan justru jadi bersikap lebih baik terhadapku. mereka mulai memandangku seutuhnya sebagai sang pemimpi yang sukses. Kisah ini sederhana memang, tapi rupanya cukup mendatangkan inspirasi tersendiri buat orang-orang yang ada disekitarku. Inilah loncatan pertama yang mendorongku untuk terus percaya terhadap mimpi, ini adalan pelajaran pertama yang membuatku tidak pernah takut untuk mulai bermimpi besar, ini adalah pengalaman pertama yang membuatku mulai semakin dekat dengan langit. Mimpi besarku berikutnya adalah menuju Negeri Sakura, “Wahai alam semesta, mari kita kembali bekerjasama untuk mewujudkan mimpiku tersebut, Bismillah” semoga Allah melihat dan mendegarkan gelombang elektromagnetik yang aku ciptakan mulai saat ini dengan alam semesta. Amin. Sekali lagi, sedikitpun jangan pernah meremehkan mimpi, kelak mimpi-mimpi itu yang akan menjadikanmu sebagai bukti. Oleh: Najmi Shoghir
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 1712 Comments (0)Subscribe to this comment's feedWrite commentNewer news items:
Older news items:
|
Artikel Islami
Bertemunya Ramadhan dan Agustus
Dalam dunianya sendiri, seorang anak muda sedang ber-tafakur tentang hidupnya. Ia ingat, bahwa pada saat itu, Agustus telah menjumpainya dengan membaw...
Tulisan Bebas
Renungan Ramadhan
Rabb…
Mohon ampuni hambaMu yang lemah iman ini,
Tak ada yang bisa hamba lakukan dengan ketidakbaikan yang jelas ada di depan mata hamba, sebab hamba sen...
Sebuah Kisah
Menukar Nasibmu dengan Dia
Malam yang berselimut awan hitam pekat, setebal angkuhnya yang merasa dia hebat mungkin, hujan baru saja berhenti, tadi saat masih taraweh memang sempat mengguyur sesaat, aku dan teman teman asik di k...
Kajian Fikih
Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya’ban
Di surau-surau sederhana, di mushala-mushala yang anggun, dan di masjid-masjid yang gagah, terdengar informasi bahwa akan diadakannya acara malam Nisf...
Jajak Pendapat
Puisi
- Bangkai Rindu
- Surat Wasiat Untukmu
- Jikapun Aku Punya Pilihan
- Ku tak Berhak Menghitung Diri
- Adikku Sayang, Adikku Malang
- Saat Pamitmu
- 65 Tahun Merdeka
- Untukmu Cinta
- Meyakinkan Cinta Padamu Dinda!
- Kebaikan dan Keikhlasan yang Tertawa
- Doa Mengalun Lembut di Atas Sajadah
- Dua Pecinta Sedang di Mabuk Rindu
- Caraku Mengingatmu
- Andai Aku Bisa Itu!
- Dalam Lamunan Perihku
- Nikmat Tuhanmu
- Hanya Buat Kau Kecewa
- Belajar dari Bulan Sabit
- Eksperimen Fisika dan Hidupku
- Dengarkan Cerita Hujan
- Berbicara Tentangmu
- Apakah ini Negaraku?
- Ibu, Aku Layak Menjadi Anakmu
- Terimakasih
- Kau Tahu?



Sedikitpun jangan pernah meremehkan mimpi, kelak mimpi-mimpi itu yang akan menjadikanmu sebagai bukti.