| Ibu Muda dan Gendongan di Punggungnya |
|
|
|
| Written by Yopi Megasari |
| Thursday, 29 July 2010 19:23 |
|
Aku menggosok-gosok mataku untuk menghilangkan kristal-kristal indah yang kudapati setiap aku bangun, lalu kuenyahkan selimut dan kaos kaki yang kukenakan dan bergegas ke kamar mandi. Kurasakan hawa sejuk masuk ke pori-pori wajahku. Sedikit demi sedikit setan-setan di pelupuk mata pergi. Kubentangkan sajadahku tercinta tempat di mana aku bercinta denganNya.
Adalah suatu kebiasaanku setelah shalat shubuh, keregangkan otot-otot semisal pemanasan di teras rumah sambil kuhirup udara pagi yang sejuk yang belum terjamah dengan polusi. Dan kerap kali juga ketika kumeregangkan otot, kujumpai sosok ibu muda yang menjinjing keranjang di tangan kanannya dan tak lupa di punggungnya menggendong sesuatu. Keranjang itu nampaknya berat sekali, ukurannya hampir sama dengan koper. Belum lagi gendongan di punggungnya yang sepertinya sama beratnya.
“Neng, olahraga? Mau beli bala-bala, gulcom, lontong dan goreng pisangnya?” Begitu ia menyapaku sambil menawarkan barang dagangannya. Senyum khas yang samar-samar terlihat berkat bantuan sinar lampu neon di teras rumahku. Wajahnya tetap cantik meskipun terhalang gurat keletihan. Dengan wajah penuh harap ia memandangku, menanti jawabanku.
“Oh ya boleh Bu, Gulcom dan goreng pisangnya tiga ribu rupiah saja.”. Kupersilakan ia duduk sambil menungguku mengambil uang di dalam. Dengan cekatan ia membungkuskan pesananku. Kuserahkan uang tiga ribu rupiah padanya serayaku menerima pesananku. Mataku tertarik pada sesuatu di punggungnya yang ukurannya cukup besar.
“Bu, itu dagangan Ibu juga ya?” Tanyaku sekenanya. Barangkali itu di dalam sana terdapat makanan yang kusukai . Mendengar pertanyaanku, ia malah tertawa seraya membereskan dagangannya.
“Neng mau beli berapapun, Ibu ga akan kasih. Ini sangat berarti dalam hidup Ibu. Dia nyawa Ibu.” Secara perlahan dan hati-hati, ia membuka gendongannya. Alangkah terperanjatnya aku melihat kepala anak kecil berusia sekitar 2 tahun yang sangat lucu sambil memainkan dotnya. Namun sayang sekali, yang ia minum bukanlah susu formula yang kebanyakan balita seusianya konsumsi. Ia hanya mengemut dot yang berisikan air teh. Entah itu teh manis atau mungkin hanya teh biasa. Di usianya yang sedang tahap pertumbuhan, seharusnya ia mendapat asupan gizi yang cukup untuk menunjang perkembangan otaknya.
Kasian sekali, setiap hari ia harus ikut merasakan dinginnya pagi di balik gendongan ibunya. Bahkan kulihat ia tidak mengenakan jaket atau sejenis mantel menyelimuti tubuhnya. Hanya keringat dan kasih sayang ibunya lah yang menghangatkan tubuhnya. Kehidupan memang kejam, jika tak sabar-sabar menghadapinya, tentulah kita telah tewas dibunuhnya. Bagaimana mungkin seorang ibu rela dan tega membawa anaknya yang masih kecil yang seharusnya tengah tertidur lelap di kasur yang empuk menemaninya berjualan melawan dingin dan sepinya jalanan? Ini semua hanyalah tuntutan kehidupan yang memaksanya melakukan hal ini. Harga-harga barang pokok yang semakin melambung tinggi, seakan mencekik leher rakyat kecil dan menggerogoti secara perlahan bagian tubuh kita. Aku hanya bisa mengelus dada menyaksikan fenomena kehidupan yang tengah kusaksikan. Kuyakin, di luar sana, ada ribuan ibu dan anak yang bernasib sama atau bahkan lebih mengenaskan dari ibu itu.
Kuteringat syair indah dari seorang pujangga mengenai kehidupan:
Engkau dibisiki bahwa kehidupan adalah kegelapan Dan penuh dengan ketakutan Engkau sebarkan apa yang telah dituturkan padamu penuh kebimbangan Kuwartakan padamu bahwa hidup adalah kegelapan jika tidak diselimuti oleh kehendak Dan segala kehendak akan buta bila tidak diselimuti pengetahuan Dan segala macam pengetahuan akan kosong bila tidak diiringi dengan kerja Dan segala kerja hanyalah kehampaan kecuali disertai cinta Maka bila engkau bekerja dengan cinta Engkau sesungguhnya tengah menambatkan dirimu (Kehidupan : Khalil Gibran)
Itulah kehidupan, kehidupan yang selamanya akan terus berjalan selama nafas kita masih berhembus dan jantung masih berdetak. Kehidupan yang senantiasa memberikan kejutan-kejutan istimewa, hanya orang yang sabar dan mau berusaha yang mampu bertahan hidup di bumi-Nya.
Senin, 26 Juli 2010 Kupersembahkan karya pertamaku untuk Umaku tercinta tepat di hari kelahiranku Oleh: Yopi Megasari (Profile)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 328 Comments (0)Subscribe to this comment's feedWrite commentNewer news items:
Older news items:
|
Artikel Islami
Bertemunya Ramadhan dan Agustus
Dalam dunianya sendiri, seorang anak muda sedang ber-tafakur tentang hidupnya. Ia ingat, bahwa pada saat itu, Agustus telah menjumpainya dengan membaw...
Tulisan Bebas
Renungan Ramadhan
Rabb…
Mohon ampuni hambaMu yang lemah iman ini,
Tak ada yang bisa hamba lakukan dengan ketidakbaikan yang jelas ada di depan mata hamba, sebab hamba sen...
Sebuah Kisah
Menukar Nasibmu dengan Dia
Malam yang berselimut awan hitam pekat, setebal angkuhnya yang merasa dia hebat mungkin, hujan baru saja berhenti, tadi saat masih taraweh memang sempat mengguyur sesaat, aku dan teman teman asik di k...
Kajian Fikih
Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya’ban
Di surau-surau sederhana, di mushala-mushala yang anggun, dan di masjid-masjid yang gagah, terdengar informasi bahwa akan diadakannya acara malam Nisf...
Jajak Pendapat
Puisi
- Bangkai Rindu
- Surat Wasiat Untukmu
- Jikapun Aku Punya Pilihan
- Ku tak Berhak Menghitung Diri
- Adikku Sayang, Adikku Malang
- Saat Pamitmu
- 65 Tahun Merdeka
- Untukmu Cinta
- Meyakinkan Cinta Padamu Dinda!
- Kebaikan dan Keikhlasan yang Tertawa
- Doa Mengalun Lembut di Atas Sajadah
- Dua Pecinta Sedang di Mabuk Rindu
- Caraku Mengingatmu
- Andai Aku Bisa Itu!
- Dalam Lamunan Perihku
- Nikmat Tuhanmu
- Hanya Buat Kau Kecewa
- Belajar dari Bulan Sabit
- Eksperimen Fisika dan Hidupku
- Dengarkan Cerita Hujan
- Berbicara Tentangmu
- Apakah ini Negaraku?
- Ibu, Aku Layak Menjadi Anakmu
- Terimakasih
- Kau Tahu?



SeruanNya membahana di pagi nan dingin di setiap rumahNya pelosok kampungku. Lantunan indah dari Sang Mu’adzin membangunkan kami yang tengah asyik bermesraan dengan mimpi-mimpi indah. Namun sesekali kudengar suara yang terkesan dipaksakan mengikuti arus suara adzan di tempat lain yang mayoritas terdengar bergairah dan membangkitkan semangat. Suara yang parau, lafalnya terdengar tak jelas dan nafasnya tersengal-sengal. Ah pada kemana para pemuda-pemuda di kampungku. Mengapa sampai hati membiarkan kakek tua mengumandangkan adzan padahal kondisinya sudah terlalu renta. Apa masih meringkuk di kasur mereka dengan bidadari mimpinya atau bahkan baru saja tertidur karena semalaman begadang menonton sepak bola dan main play station? Ah kasihan sekali kakek tua itu,
namun beribu jempol aku acungkan untuknya atas semangatnya untuk beribadah di tengah kondisi yang sudah tak sebugar waktu muda.
