Template Tools
Hikmah yang Terselip di Sebuah Perjalanan Kehidupan PDF Print E-mail
Written by Adi Nurseha   
Monday, 26 July 2010 17:29

Jam 07:00

 

Pada hari Jum’at pagi, matahari malu-malu menyembul di ufuk Timur, kilauan cahayanya redup-redup menggelikan, wajah garangnya sebentar lagi akan menebar ancaman kepada makhluk-makhluk yang sombong dan congkak di muka bumi ini. Harum embun semerbak, menusuk-nusuk hidungku tak kenal lelah, ah tapi sebentar lagi ia akan meleleh, dan mentari lah yang selanjutnya akan berkuasa. Di saat para penduduk Mesir sebagian besar masih tertidur, di saat para anjing mengorok, dan di saat burung-burung kecil di ranting pohon menguletkan badan setelah semalaman suntuk tertidur nyenyak dengan bermahkotakan sarang yang terbuat dari rumput-rumput yang sudah busuk, aku langkahkan kakiku menuju Hayy Sadis (District 6th) untuk berolahraga bulutangkis.

 

Jam 09:30

 

Mentari sedang menari-nari setengah tiang, sebagian penduduk Mesir pun terbangun dengan belek sebesar Gunung Uhud, para anjing tetap dalam kondisi semula tertidur lelap setelah semalam begadang sambil meronda mengelilingi kampung sekitar, dan burung-burung kecil pun kini sedang memburu rezeki dengan tombak dan belati di sayapnya yang menawan itu. Setelah bermandi keringat dengan olahraga bulutangkis, jadwal latihan marawis pun tertera dengan tinta emas di buku agenda ingatanku, sehingga kulanjutkan perjalanan kehidupanku dengan latihan marawis di taman yang terletak di depan Wisma Jakarta-Mesir (KPJ), organisasiku. Gendangan bertalu-talu, membuat hati berjingkrak-jingkrak keasyikan, tangan pun berubah menjadi gendut karena memukul gendang-gendang marawis yang berbentuk bulat dan unik itu dengan penuh semangat.

 

Jam 13:00

 

Adzan Jum’at berkumandang lantang, seluruh sudut kota Kairo terkena siraman adzan yang bombastis itu. Para buruh dan kuli, para penjual mobil dan penjual tisu, para kawakan dan para pembaharu, semuanya menghempaskan derapan kakinya ke masjid-masjid terdekat. Shalat tahiyatul masjid, shalat sunnah qabliyah jum’at, khutbah, dan ritual shalat jum’at, menenangkan jiwa yang kalut, mensucikan hati yang tercoreng, dan menyinari tubuh yang kotor. Oh indahnya Islam, jika selalu ditemani dengan pembersihan-pembersihan segala dosa yang nangkring di catatan malaikat Atid. Terimkasih spesial kurapatkan kepada sang Pemegang Hak tubuhku yang mungil ini atas nikmatNya yang mengizinkan aku bisa terlahir dari rahim hambaMu yang shalihah, sehingga aku beragama Islam.

 

Jam 14:00

 

Di sebuah flat yang mewah. Gaya arsitekturnya elegan. Perpaduan warna antara setiap dinding cukup menarik dan tidak membosankan, bisa dikatakan warna yang melekat di dinding itu adalah warna kontemporer. Ada delapan ruangan yang menghiasi flat tersebut. Satu ruangan untuk pertemuan dan acara-acara besar. Satu ruang privacy. Satu ruang tamu. Satu ruang kantor. Satu ruang dapur. Satu ruang wudhu. Dua ruang kamar mandi. Dan satu ruang untuk tempat istirahat. Itulah sekretariat Keluarga Pelajar Jakarta (KPJ) yang biasa disebut Wisma Jakarta.

Di tempat itulah, aku bisa berkreasi, berkarya, dan bersilaturahim. Bisa dikatakan itu sebagai Kawah Condrodimukoku, tempat pertapaanku untuk menggembleng jiwa kepemimpinanku. Selama tiga tahun aku berorganisasi dengan riang di sana, dari menjadi anggota hingga menjadi ketua. Berbagai permasalahan dan dilema pun bermunculan seperti rumput liar tak bertanggung jawab yang tumbuh di berbagai tempat. Namun, hal inilah yang membuatku bersyukur, bahwa menjadi pemimpin bukan hanya dididik untuk sekedar memimpin warganya, akan tetapi juga mencontoh dan mengabdi, sehingga butuh perjuangan khusus untuk melakukan hal itu.

 

Dan sekarang, organisasiku mempunyai agenda besar, yakni mengadakan KPJ Games 2010. Dalam acara tersebut yang berlangsung tiga hari, memiliki agenda-agenda yang bersifat permainan dan perlombaan. Ada tenis meja, catur, game sepakbola, futsall, hingga tarik tambang. Berteriak, tepuk tangan, sedih, dan juga tertawa menghiasi acara tersebut. Keluh keringat, bau badan, dan juga kumal mengitari badanku. Menjadi panitia untuk acara sebesar ini tidaklah mudah, butuh kesabaran dan keuletan untuk mencetak sejarah. Maka, tak jarang waktu istirahatku berkurang dengan santainya.

 

Jam 07:00

 

Pada hari Sabtu. Langkah kakiku berderap kencang. Berlari ke sana ke mari. Mengejar bola dengan ayunan dua kaki. Memang aneh, satu bola diperebutkan banyak orang, tetapi inilah olahraga permainan. Sehingga gelak tawa, indahnya silaturahim, dan sehatnya berolahraga menyatu padu membentuk jiwa dan hati yang kuat. Bola liar menggelinding, kadang pun terbang. Bermain di Suq Sayyarat (Pasar Mobil) bukanlah bermain bola yang aman, coba bayangkan kami bermain bola di atas aspal yang hitam pekat, sehingga jika terjatuh sudah pastilah terluka dengan pancaran darah yang menganga di lutut atau di sikut tangan. Namun, kami bahagia bermain di sana, karena selain tempatnya luas, gratisan juga, sehingga tak perlu merogoh kantong yang sudah bolong milik para Mahasiswa rantau seperti aku ini.

 

Jam 09:30

 

Nafasku tak karuan, keringat menggelinding melewati pipi yang tembem. Kurebahkan badan di rumah kawanku untuk sekedar beristirahat menghilangkah letih setelah olahraga sepakbola, dengan meneguk air segar ala sungai nil. Tiba-tiba, ringtoon telepon genggamku berbunyi menebaskan suasana sepi yang masih menyelimuti kota Kairo.

 

“Assalamualaikum” ucap seseorang dari kejauhan sana, di negeri antah berantah yang aku tak tahu letaknya di mana.

 

“Waalaikum salam” jawabku dengan sekenanya, sambil mengatur nafas yang masih tak berirama.

 

“Bang Adi, kita latihan marawis lagi sekarang, seperti biasa di Wisma Jakarta” ujar seseorang itu yang merupakan anggota personil marawis, Zul Ikram namanya. Kami melakukan latihan intensif setiap hari karena kami akan menampilkan kebudayaan seni Indonesia kepada para penduduk Mesir maupun para turis asing yang kebetulan berkunjung ke Mesir. Acara ini diadakan di Opera House yang merupakan tempat penampilan-penampilan karya seni mancanegara. Sehingga kami latihan sedemikian rupa seriusnya, karena kami yakin, kami tampil di sana bukan hanya membawa nama kami, namun juga membawa nama Indonesia, ya, Indonesia yang luas itu dan yang katanya subur itu. Oleh karena itu, kami akan menampilkan sebaik-baiknya untuk mengharumkan negeri tercintaku.

Akhirnya, kuhempaskan kaki menuju Wisma Jakarta untuk latihan marawis.

 

Jam 21:30

 

Lampu-lampu asyik masyuk memancarkan benderangnya, pancaran bulan di atas sana pun kalah terangnya. Para anjing yang tadinya tertidur lelap sekarang sudah bangun dan siap meronda lagi, untuk mencari mangsa atau sekedar bermain-main. Aku pulang dengan keadaan lelah, letih dan lesu, karena waktu istirahatku berkurang. Namun, inilah kehidupan yang penuh tantangan, aku yakin jika aku terus menjadi hamba Allah yang sabar, maka Allah akan menguatkan pundakku agar aku semakin kuat menahan semua beban dan cobaan yang menawan itu.

 

Seperti biasa, el-tramco adalah kendaraan favoritku jika aku pulang ke flatku. Kupandangi ciptaan Allah di atas mobil dengan serius, indahnya alam ini membuatku takjub tak terkira, semakbelukar, pepohonan, rumput-rumput liar, para manusia, para hewan, ah… membuatku semakin gila untuk bersyukur kepada Allah. Aku merasa seperti hidup di dunia lain, hidup di dunia para alien di planet Bumi. Pernahkah terpikir, alien yang memiliki mata yang anggun seperti kita, bola mata yang hitam bergerak-gerak dipelataran mata putih, kedua tangan yang menjuntai-juntai yang dipasang di dekat pundak. Kedua kaki yang semampai yang diterapkan di bawah badan sebagai penopang organ tubuh. Kepala yang berbentuk bulat, yang disampingnya terdapat kedua kuping yang berbentuk aneh, di depan kepala terdapat gundukan hidung. Semua itu adalah aneh, kenapa bisa berbentuk seperti itu, inilah yang aku sebut sebagai alien penunggu planet Bumi.

Mobil berhenti sejenak untuk menaikkan penumpang yang menuju Hay Sabie’ (Districh 7th, tempat tinggalku). Seorang bapak setengah baya pun naik bersama rekannya yang sepadan umurnya. Badannya di balut dengan jalabiyah (sejenis gamis) khas penduduk Mesir. Ia memakai jalabiyah seperti kebanyakan jalabiyah-jalabiyah yang dipakai oleh rakyat kecil, kumal, agak dekil, dan tak terawat. Kumisnya yang tebal, jenggot tipis, menghiasi permukaan kepalanya. Aku yakin, ia adalah seorang buruh pekerja keras, atau bisa saja tukang bangunan, atau juga tukang sayur, atau mungkin juga tukang memperbaiki ledeng.

 

Bapak setengah baya itu menyodorkan uang 1 pound untuk dua orang kepada sang supir. Namun anehnya sang supir menolak. Meminta 0,5 pound lagi (1 pound terdapat pecahannya: 0,5 pound biasa disebut dengan 50 qirsy dan 0,25 pound biasa disebut dengan 25 qirsy), rupanya sang supir mematok tarif  sebesar 0,75 pound untuk satu orang, sehingga jika untuk dua orang maka ongkosnya adalah 1,5 pound. Oleh karena itulah sang supir meminta 0,5 pound lagi.

 

“Apa-apaan ini, saya biasa membayar ongkos segitu untuk 2 orang” ujar bapak setengah baya tadi tak rela jika dirinya tak diperlakukan adil oleh sang supir.

 

“Jika anda tidak membayar, anda lebih baik turun di sini” suara sang supir sedikit meninggi dengan mata yang masih fokus menyupir.

 

Akhirnya, kedua orang tersebut, sang supir dan bapak setengah baya, berargumen layaknya pendebat yang ulung. Sampai-sampai seisi mobil el-tramco berusaha melerai perang mulut tersebut. Aku yang mendengarkan diam saja, sambil menikmati fenomena kehidupan ini. Sang supir yang memiliki kebutuhan untuk keluarganya, ia harus berpacu dan bersemangat mencari nafkah dzahir sehingga ia mematok harga tinggi untuk penumpangnya, padahal menurutku benar apa yang dikatakan sang bapak setengah baya tadi yang seharusnya ia hanya mengeluarkan uang 1 pound untuk dua orang, dengan rincian satu orang dikenakan tarif sebesar 0,5 pound.

 

Begitu pun sang bapak setengah baya tadi, ia mempertahankan argumennya karena ia benar. Dan ia tak mau memberikan tambahan 0,5 pound kepada sang supir. Kehidupan yang kerasnya sebagai pekerja atau wirausahawan kecil-kecilan membuatnya enggan untuk memberikan tambahan ongkos. Ia saja harus mati-matian menanggung biaya kehidupan keluarganya, maka jangan heran jika ia memakai baju ala kadarnya, dekil, kumal, agak compang-camping dan juga raut wajah yang tak terurus.

 

Coba kita perhatikan Kawan, dua orang yang sedang butuh biaya untuk keluarganya, ia mempertahankan argumen masing-masing, sehingga perintah untuk bersikap bijaksana dan melakukan perbuatan kebaikan seakan-akan menutupi mata batinnya. Jika seperti ini terus, maka pertengkaran dan perkelahian seperti ini tak ada habis dan pudarnya, sehingga akan bermunculan orang-orang yang enggan berbuat baik dan juga enggan berlaku bijaksana. Aku hanya mengelus-ngelus dada, sambil menghela nafas, begitu kerasnya kah kehidupan?.

 

Jam 22:00

 

Sesampainya di flat, aku langsung menuju tempat tidur dan sejurus kemudian aku pun tertidur pulas, mengisi energi yang sudah habis, merebahkan badan yang telah terpontang-panting berkeluh kesah dengan keringat dan bau badan. Akhirnya kututup dengan bacaan “Bismika Allahumma ahya wa bismika amut”.

 

Sebuah kado penenang hati untuk Sang Pemilik Jiwa yang Bening.

13:20. Senin, 26 Juli 2010

Oleh: Adi Nurseha (Profile)

Comments (0)

Subscribe to this comment's feed

Write comment

smaller | bigger

busy
 

Artikel Islami

Bertemunya Ramadhan dan Agustus

Bertemunya Ramadhan dan Agustus

Dalam dunianya sendiri, seorang anak muda sedang ber-tafakur tentang hidupnya. Ia ingat, bahwa pada saat itu, Agustus telah menjumpainya dengan membaw...

Read more...
More:

Tulisan Bebas

Renungan Ramadhan

Renungan Ramadhan

Rabb…
Mohon ampuni hambaMu yang lemah iman ini,
Tak ada yang bisa hamba lakukan dengan ketidakbaikan yang jelas ada di depan mata hamba, sebab hamba sen...

Read more...
More:

Sebuah Kisah

Menukar Nasibmu dengan Dia

Menukar Nasibmu dengan Dia

Malam yang berselimut awan hitam pekat, setebal angkuhnya yang merasa dia hebat mungkin, hujan baru saja berhenti, tadi saat masih taraweh memang sempat mengguyur sesaat, aku dan teman teman asik di k...

Read more...
More:

Kajian Fikih

Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya’ban

Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya’ban

Di surau-surau sederhana, di mushala-mushala yang anggun, dan di masjid-masjid yang gagah, terdengar informasi bahwa akan diadakannya acara malam Nisf...

Read more...
More: