| Infeksi Otak Membuat Harapan Nyaris Sirna (Part 2) |
|
|
|
| Written by Luluk Evi Syukur |
| Sunday, 25 July 2010 20:06 |
|
Sepupu saya yang lainnya mulai berdatangan. Semua keluarga nyaris berkumpul. Adik ini adalah anak pertama dari Mamang***, saudara papa yang ke 5. Dari Papa saya memiliki 15 orang sepupu. Uul ini adalah cucu ke 9 Kakek-Nenek saya.
Kami duduk di lorong ruangan RS yang sangat ramai pengunjung. Sterilisasi kamar kurang intensif jam-jam segini. Saya paham ini sepenuhnya bukan tanggung jawab pihak RS karena mayoritas keluarga pasien sedikit ngeyel* kalau ditegur pihak RS. Padahal tujuan RS untuk kebaikan pasien, agar pasien bisa istirahat tenang. Terlintas dalam benak saya untuk mengusulkan pindah kamar. Alasan saya satu dengan ruangan yang ramai membuat adik semakin tidak tenang, masalah biaya itu bisa dicari, insyaallah ada rezeki.
“Kak… Kayaknya Uul harus dipindahkan kamarnya”
“Seharusnya” Jawab kakak sepupuku yang memang berprofesi perawat.
“Kasihan kalu terus ada di Bangsal, ramai” Ungkapku lagi
Kakak hanya diam saja, sepertinya dia sepaham dengan saya, namun lagi-lagi terlihat dari wajah putihnya bahwa dia memikirkan masalah biaya yang tidak murah. Ya Rabb apa-apaan ini. Ingin rasanya marah padaMu tapi sepertinya saya tidak berhak untuk itu. Rabb, Bantu saya. Jangan tinggalkan saya.
“Nak, Om mau bicara” Tiba-tiba Mamang datang.
“Ya Mang”
“Ayo! cari kamar di RS sebelah. Siapa tau ada kamar kosong. Disini ramai, kasian adiknya. Sepertinya dia gelisah”
Senyum saya mengembang bak matahari yang siap dipanen bijinya. Wajah saya merona bak mawar yang siap disantap pemiliknya. Duh Rabb lagi-lagi syukurku padaMu tiada terhingga. Sungguh!!!
Tepat Isya di kantin RS
Pesanan nasi goreng tersaji di depan saya dan semua sepupu saya yang sudah lapar karena seharian masih dengan perut kosong. Ditambah dengan teh manis hangat menemani perkumpulan mesra kami. Jarang-jarang kami berkumpul seperti ini. Cinta dan sayang tidak bisa terungkap. Ada hikmah ternyata dibalik ini semua. Terimakasih Rabb atas rencana indahMu ini.
“Halo selamat malam RS, ada yang bisa saya bantu?”
“Malam. Mau tanya saja, ini Luluk yang tadi maghrib memesan kamar. Apa ada kamar kosong malam ini untuk usia 17 tahun?”
“Oia mbak Luluk, ada untuk malam ini cuma kami belum bisa memastikan jam berapa pasien bisa keluar”
“Owh begitu”
“Seperti ini saja mbak Luluk. Nanti begitu ada konfirmasi keluar dari keluarga pasien, saya hubungi nomor mbak Luluk, gimana Mbak?”
“Baiklah”
Dialog singkat saya dengan recepsionis RS. Semua sepakat untuk memindahkan adik ke RS lain yang memang kamarnya lebih kondusif. Bukan sok kaya atau sok lainnya. Kami hanya ingin memberikan yang terbaik padanya dengan pelayanan yang lebih intensif. Tiga hari di ruang Bangsal tidak memberikan perkembangan yang signifikan.
Jam 10 malam
Kami bergantian menjaganya. Kami mengusahakan dengan optimal agar dia tetap nyaman dengan penjagaan kami. Papa-Mama pulang karena 3 hari ini belum istirahat sama sekali. Saya merelakan meninggalkan skripsi sementara waktu. Entahlah target untuk lulus sepertinya akan mundur. Harusnya minggu ini sudah bisa maju out line terakhir tapi, entahlah sudah tidak penting lagi bagi saya saat ini.
Dia masih saja menutup mata dengan mulut yang terbuka menahan sakit. Semua bagian mulut terluka karena setiap sakit dia hanya bisa menggigit bibir dan lidahnya. Suaranya tidak ada sama sekali. Nyaris kami kehilangan kecerewatannya. Tiba-tiba semuanya merindukan ocehan tidak bermutunya yang terkadang sering kali kami abaikan.
“Selamat malam dengan mbak Luluk”
“Iya benar, dengan siapa di sana?”
“Kamar ada yang kosong, kalau memang bersedia bisa langsung ke mari mengurus administrasinya”
“Baik, kami segera ke sana sekarang juga”
Langkah kaki menahan kantuk saya paksakan untuk melengkapi administrasi RS. Mengisi formulir dan lain sebagainya. Hal yang unik dan baru bagi saya adalah ketika saya kebingungan memilih dokter spesialis syaraf dan otak. Baru kali ini saya tahu ada RS yang membebaskan pasien memilih dokter. Saya gunakan kesempatan ini untuk bertanya-tanya kualitas dan pengalaman dereatan nama yang ada di meja receptionis ini. Mudah-mudahan saya tidak saya pilih.
Jam 12 malam di koridor RS
Jarak antara RS awal dengan satunya tidak jauh, masih bisa dijangkau dengan kereta kasur sehingga kami tidak repot dan keluar biaya lagi untuk sewa Ambulance. Rasa syukur kembali terucap dari bibir kami saat itu.
Hari berikutnya jam 08.00
Dokter memasuki kamar ekslusif itu didampingi oleh 3 orang perawat yang anggun luar biasa. Bukan bermaksud membandingkan pelayanan RS namun sungguh beda. Namun yang jelas satu hal yang sampai kini selalu saya pertanyakan, kenapa ada perbedaan sikap pelayanan perawat dalam setiap kualifikasi kelas kamar di RS?
Nyaris 3 hari saya menjaga adik di RS sebelumnya tidak sekalipun saya mendapatkan senyuman perawat yang setiap waktu mengganti infuse adik saya. Sulitkah menyunggingkan sedikit bibirnya untuk pasien yang tengah tidak berdaya itu? Hal ini sungguh kontradiktif dengan apa yang saya temui di RS ini, di mana semua perawat tidak pernah tidak menebarkan seulas senyumnya, sungguh menyejukkan. Hingga timbul sebuah pertanyaan besar dalam benak saya, apa yang sebenarnya terjadi?
“Mbak bisa ikut saya ke ruangan ?”
“Baiklah Dok”
Dokter menjelaskan dengan detail sekali hasil rongen terakhir yang dipegangnya. Jawabannya sama dengan sebelumnya, bahwa ada kelainan di otak sebelah kiri yang itu sangat kecil dan sulit terdeteksi dengan alat rongen. Saya melihatnya dengan jelas, memang ada ketidak samaan bentuk anatara otak kanan dan kiri, berbentuk menyerupai gurita benjolan itu. Dokter menambahkan bahwa kemungkinannya ada tiga, kalau tidak infeksi otak, tumor dan kanker otak.
“Lantas bagaimana Dok untuk segera mengetahui apa sebenarnya itu ?”
“Saya sarankan untuk di MRI saja Mbak”
“Baiklah Dok, akan saya pertimbangkan” Jawab saya seadanya seolah semakin membuat saya lemas.
“Biayanya relative cukup mahal memang mbak Evi, tapi nanti saya coba carikan laboratorium yang lebih terjangkau biayanya”
“Sesuatu yang ada di otak sebelah kiri inilah sebenarnya yang masih menghambat Adik mbak untuk bangun dari tidurnya, ada perasaan malas dan sakit di kepalanya, selain itu fungsi organ tubuh sebelah kanan tidak berfungsi seperti biasa kayak mati rasa gitu dan biasanya ini butuh proses untuk mengembalikan seperti semula” Sepenggal dialog pagi itu membuat saya perlahan menjelaskan semua keadaan sebenarnya pada Mamang, sengaja Bibi tidak kami kabari karena dia gampang shock. MRI adalah jalan satu-satunya untuk mengetahui detail penyakit apa sebenarnya yang bersemayam di otak itu. MRI (Magnetic Resonance Imaging) ialah gambaran potongan cara singkat badan yang diambil dengan menggunakan daya magnet yang kuat mengelilingi anggota badan tersebut. Berbeda dengan "CT scan", MRI tidak memberikan rasa sakit akibat radiasi karena tidak digunakannya sinar-X dalam proses tersebut. Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan suatu teknik yang digunakan untuk menghasilkan gambar organ dalam pada organisme hidup dan juga untuk menemukan jumlah kandungan air dalam struktur geologi. Biasa digunakan untuk menggambarkan secara patologi atau perubahan fisiologi otot hidup dan juga memperkirakan ketelusan batu kepada hidro. “Mang, perkiraan biaya 1 kali MRI sekitar 2-3 juta untuk yang colour, kelebihannya adalah gambaran medis akan lebih terang dan tampak, ya seperti foto berwarna itu Mang” Saya mencoba menjabarkan apa itu MRI ke Mamang. “Lakukan saja Nak yang terbaik, masalah biaya biarkan kami yang memikirkan” Lirihnya dengan mata yang berlinang air mata. “Sabar Mang, semuanya bisa dilalui, ikhtiar dan tawakal saja untuk saat ini” Pinta saya ketika itu. Masih di hari yang sama tepat pukul 15.00 Sesuai dengan janji Dokter bahwa jam sekarang akan ada perawat yang akan mencari saya meminta kepastian MRI itu. Saya ingat betul betapa ramahnya suster itu. Sejuk melihatnya. Apalagi ketika dia menjelaskan satu persatu laboratorium MRI di Surabaya ini. Tidak ada yang terlewatkan, rapih semua. Pasien manapun akan segera sembuh jika semua suster murah senyum seperti ini. “Gimana mbak Evi?” “Menurut suster Anita** mana yang dari sekian ini baik dan cepat?” “Di laboratorium Nusantara** Mbak, dokter biasanya selalu menyarankan ke sini karena selain pelayanannya tepat waktu juga relative murah dari yang lainnya” “Saya percaya dengan pilihan Suster” “Kalau begitu nanti jam 4 akan ada petugas kami yang akan menjemput ke sini, kebetulan saya tidak jaga sore mbak Evi untuk hari ini, jadi nanti akan digantikan dengan suster yang lainnya” “Terimakasih banyak Sus” Saya jabat tangannya
Ringkas Cerita
Sehari setelah MRI dokter kembali menjelaskan hasilnya. Bahwa adik saya positif infeksi otak akut yang menyerang saluran pita suara, hasilnya hingga kini dia tidak bisa bersuara dan butuh proses untuk mengembalikan keadaanya seperti semula. Dokter meminta untuk tidak khawatir dengan semua cobaan ini, kita diminta harus fokus penyembuhan infeksinya karena kasus infeksi otak beresiko terkena tumor otak. Dokter menambahkan bahwa ingatannya akan sedikit berkurang akibat virus di otaknya.
Adik saya baru kembali membuka matanya 3 hari setelah MRI, namun benar kata dokter kami harus sabar untuk menyambutnya. Kalimat yang keluar dari mulutnya persis seperti orang bisu bahkan lebih parah dari itu.
Pengobatan di RS berlangsung nyaris 4 minggu hingga akhirnya infeksi itu sudah dinyatakan negative tumor otak, namun untuk cek-up setiap minggunya tetap harus dijalani. Dokter juga memperbolehkan pulang ke esok harinya. Hampir semua keluarga besar saya dari Papa berkumpul saat itu. Bahkan Bapak (kakak dari Papa) yang dari luar pulau ikut datang. Biaya pengobatanpun juga tidak ditanggung pribadi, semua saudara menyumbang seadanya walau akhirnya itu diijab sebagai utang piutang tanpa dijangkai waktu untuk mengembalikannya. Biaya RS keseluruhan adik saya nyaris mencapai biaya kuliah saya selama kuliah S1, lain lagi setelah ini harus cek-up intensif setiap minggunya.
Layaknya penyakit otak pada umumnya, fungsi organ tidak kembali normal seperti semula. Tidak bisa berdiri sendiri, tidak bisa mengangkat tangan kanannya, nyaris organ yang kanan semuanya mati rasa dan yang paling membuat kami terpukul adalah dia tidak bisa berbicara normal seperti biasanya. Ada sesuatu yang tiba-tiba hilang di tengah-tengah kami. Ini bukan dia banget, yang selalu tampil centil di depan semua orang, yang tidak pernah berhenti ngoceh dengan siapapun dia bicara.
Hingga kini. . .
Dia terpaksa harus cuti sekolah. Dia masih kelas 3 SMA di salah satu pesantren Jombang. Banyak alasan untuk itu walau kondisinya jauh lebih membaik dari 3 bulan lalu. Entah sampai kapan kembali lagi aktif, kami tidak bisa memprediksi. Kami secara intensif mencoba mengingatkan kembali memori yang pernah terlewati, terutama tentang keberadaan Allah. Mengajarinya shalat dari awal, mengeja dari awal, cara makan dari awal dan semuanya benar-benar dari awal.
Banyak pelajaran yang saya petik dari musibah ini. Bagi saya ini bukan hanya sekedar musibah namun nikmat juga menyertai di dalamnya. Saya belajar menjadi orang yang bertanggung jawab atas hidup saya, bahwa kelak bukan tidak mungkin saya punya sakit lebih parah dari ini sehingga dari itu saya lebih berhati-hati mengatur kesehatan saya. Saya belajar istilah-istilah medis yang sebelumnya tidak saya pahami. Saya banyak mengenal pasien sejenis yang kebetulan kamarnya bersebelahan ketika di RS dan belajar bagaimana mereka tabah dan optimis menjalani masa penyembuhan yang tidak sebentar, apalagi keluarga pasien yang menungguinya dengan begitu sabarnya.
Banyak hal yang tidak bisa semuanya saya tuliskan disini. Namun satu hingga kini, Allah tidak pernah tuli bahkan buta. Kita minta adik di bangunkan dari tidur panjangnya. Dia bangunkan dengan lembut. Kami minta untuk segera diberi tahu apa sebenarnya penyakit itu, Dia memberikan petunjuk melalui MRI dan dokter serta timnya. Kami minta disabarkan, Dia selalu membuat kami tawakal saat itu hingga ada satu kalimat “Bahwa jika Engkau memanggilnya kini maka kami ikhlas untuk itu”.
Bagi siapapun yang membaca ini. Jangan pernah menyesal. Kuncinya hanya optimis sembari meyakini dalam diri bahwa Tuhan selalu menyertai. Orang sakit tidak hanya mereka yang terbaring di kasur RS, namun menunggui orang sakit juga bisa dikatakana sakit jika dia hanya pasrah dan tidak yakin akan kesembuhan yang ditungguinya. Bagi pembaca yang menderita sakit yang sama, jangan putus asa. Adik saya hingga kini masih melalui hidupnya dari nol, kuncinya satu kenapa dia bisa bertahan karena orang disampingnya tidak pernah lelah dan menyerah hingga diapun juga tidak pernah lelah dan menyerah
Keterangan : *Bahasa jawa yang artinya bandel. **Bukan nama sebenarnya. Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 490 Comments (1)Subscribe to this comment's feed...
saya sangat sedih membaca cerita anda karna yang anda alami sama seperti saya,saya pun sekarang lagi di uji Allah Swt anak saya yang ke 2 tgl 15 mei 2010 terkena demam tinggi di rs hingga 42 temp nya terus dia gak sadarkan diri,hingga 3 hari dokter bilang dia kena radang otak(ensofalitis)saat itu saya sangat terpukul seperti hidup ni tdk ada artinya lagi.tapi saya slalu tawakal kepada Allah ni lah hidup slalu dikasih Allah cobaan mungkin saya dan istri saya yang terkuat didunia ini,dan Allah sayang kepada kami sehinggah di banyak memberikan hikma atas kejadian ini. skrng anak saya msh terbaring belum bisa apa2 hanya menagis dan tertidur aja.mungkin ini saya diuji kesabaran, hingga di kelak bisa kayak anak normal lainnya.saya tidak pernah berhenti memohon kepada Allah agar dia sembuh.semoga anak saya si Fahira & sepupu Mbak segera sembuh Amin Ya ALLAH.
Write commentNewer news items:
Older news items:
|
| Last Updated on Thursday, 29 July 2010 19:42 |
Artikel Islami
Bertemunya Ramadhan dan Agustus
Dalam dunianya sendiri, seorang anak muda sedang ber-tafakur tentang hidupnya. Ia ingat, bahwa pada saat itu, Agustus telah menjumpainya dengan membaw...
Tulisan Bebas
Renungan Ramadhan
Rabb…
Mohon ampuni hambaMu yang lemah iman ini,
Tak ada yang bisa hamba lakukan dengan ketidakbaikan yang jelas ada di depan mata hamba, sebab hamba sen...
Sebuah Kisah
Menukar Nasibmu dengan Dia
Malam yang berselimut awan hitam pekat, setebal angkuhnya yang merasa dia hebat mungkin, hujan baru saja berhenti, tadi saat masih taraweh memang sempat mengguyur sesaat, aku dan teman teman asik di k...
Kajian Fikih
Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya’ban
Di surau-surau sederhana, di mushala-mushala yang anggun, dan di masjid-masjid yang gagah, terdengar informasi bahwa akan diadakannya acara malam Nisf...
Jajak Pendapat
Puisi
- Bangkai Rindu
- Surat Wasiat Untukmu
- Jikapun Aku Punya Pilihan
- Ku tak Berhak Menghitung Diri
- Adikku Sayang, Adikku Malang
- Saat Pamitmu
- 65 Tahun Merdeka
- Untukmu Cinta
- Meyakinkan Cinta Padamu Dinda!
- Kebaikan dan Keikhlasan yang Tertawa
- Doa Mengalun Lembut di Atas Sajadah
- Dua Pecinta Sedang di Mabuk Rindu
- Caraku Mengingatmu
- Andai Aku Bisa Itu!
- Dalam Lamunan Perihku
- Nikmat Tuhanmu
- Hanya Buat Kau Kecewa
- Belajar dari Bulan Sabit
- Eksperimen Fisika dan Hidupku
- Dengarkan Cerita Hujan
- Berbicara Tentangmu
- Apakah ini Negaraku?
- Ibu, Aku Layak Menjadi Anakmu
- Terimakasih
- Kau Tahu?



Maghrib di kantin RS