| Infeksi Otak Membuat Harapan Nyaris Sirna (Part 1) |
|
|
|
| Written by Luluk Evi Syukur |
| Friday, 23 July 2010 13:01 |
|
Kebetulan saya lagi tidak melaksanakan shalat. Kebiasaan saya selalu bangun lewat jam 5 ketika tamu bulanan itu datang. Tidak biasanya saya menerima telepon sebelum jam 8 pagi. Saya di telepon seorang wanita mulia dalam hidup saya, my beloved mom. Mama bilang sepupu lagi sakit. Konon lagi kesurupan dan kena santet. Astaghfirullah!!!
"Tidak mungkin Ma… dia lagi ada masalah"
"Masalah apa?" tanya mama
Saya tidak menjawabnya. Bagi saya ini rahasia. Saya belum yakin itu benar santet atau sejenisnya karena SUNGGUH saya tidak yakin pada hal-hal yang berbau mistis itu. Saya lebih meyakini bahwa jiwa dia lagi terganggu akibat masalah yang dipikirkannya, kerena beberapa hari sebelum hari ini dia cerita banyak hal yang menjadi beban dirinya. Saya kuatkan dia waktu itu bahwa tidak ada masalah yang tidak ada hikmahnya, bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, bahwa masalah adalah pembelajaran buat kita. Saya tutup telepon dari Mama sembari beristighfar semoga sepupu tidak apa!.
1 April 2010, Ba'da subuh
Wanita mulia saya terisak. Isak yang tidak biasa saya dengar sebelumnya. Saya tanyakan ada apa, beliau masih terisak dan semakin terisak.
"Mah, ada apa?"
"Uul…uul…uul…"
Astaghfirullah ada apa ini, batin saya ketika itu. Segala kemungkinan pasti terjadi. Saya semakin takut mendengarkan pernyataan wanita mulia ini.
"Mah yang jelas, ada apa sebenarnya?"
"Uul…hiks…hiks… masuk RS, dia, hiks…hiks…tidak ada harapan lagi"
Deg…deg…deg… jantung saya berdetak kencang. Ya Allah ada apa ini? Apa yang terjadi! Ya Allah sudahkah saatnya dia menghadapMu? Ini masih dini untuknya Rabb.
Masih di hari yang sama pukul 12.00.
HP bergetar di saku baju saya saat hendak memasuki ruang kelas untuk mengikuti kuliah pendalaman observasi. Saya mengulang kuliah ini karena memperbaiki nilai, waktu itu saya dapat nilai C+, kata dosen wali saya sungguh tidak bagus sarjana psikologi observasi dapat nilai C+. Konon mata kuliah ini selalu dipakai di manapun saya berada kelak. Insya Allah semoga ini tidak hanya sekedar memperbaiki nilai saja namun lebih kepada bagaimana saya mampu memahaminya dan mengaplikasikannya kelak.
"Nak… kamu harus pulang... adikmu tidak ada harapan. Dokter bilang sudah terlambat. Semuanya disuruh pasrah dan menyerahkan pada Allah"
Oh Tuhan! Sepenggal SMS singkat dari pria bijaksana seakin membuat jantung saya kencang bergulir. Papa yang tidak pernah menyuruh saya pulang. Ya Allah seberapa parahnya adik saya? Benarkah sudah tidak ada harapan lagi untuknya?
"Pa... apa tidak bisa di usahakan lagi?" kucoba membalasnya sesingkat mungkin.
"Pulanglah sore ini"
Hanya kalimat singkat itulah penutup dari Papa yang sungguh membuat saya gundah sepanjang mengikuti perkuliahan. Sedikit-sedikit saya melihat HP di dalam tas. Ada kekhawatiran bahwa Papa kembali mengirim Sms atau telepon mengabarkan kondisi terbaru adik. Hari ini bukan saja hari di mana saya mendapatkan ujian berat dariNya. Namun hari ini adalah hari pertama saya mendapat teguran Dosen karena HP. Saya melanggar aturan yang sudah disepakati dengan Dosen untuk tidak main HP di dalam kelas. Sungguh saya juga tanpa sadar melakukan ini. Maaf saya janji ini pertama dan terakhir bagi saya di tegur Dosen karena HP.
Tepat pukul 15.00
Hujan begitu derasnya mengguyur kota Malang. Tidak memungkinkan jika saya harus berangkat saat ini juga ke Surabaya. Papa sudah berkali-kali kirim SMS menanyakan kepastian keberangkatan saya. Saya coba hubungi travel yang saya tahu nomernya walau saya sadar tidak mungkin ada travel jam segini.
"Papa khawatir Evi menyesal kalau tidak hari ini datang ke RS"
Kembali layangan SMS dari Papa tercinta menyesakkan dada saya. Duh Rabb, apa benar hari ini Engkau menjemput adik? Jangan Rabb. Saya mohon.
Di dalam Travel 18.00, ba'da maghrib menuju Surabaya
Terpaku di samping pak supir. Adzan shubuh berkumandang, saya sempatkan shalat di dalam mobil karena tidak memungkinkan berhenti, selain karena hujan yang super deras, tidak ada masjid atau mushala sepanjang waktu maghrib.
"Kakak, Evi sudah menuju surabaya"
"Naik apa Dek"
"Travel kak, jadi nanti langsung turun RS"
"Kalau sampai telepon kakak, kakak jemput di gerbang"
"Kak, gimana keadaanya?" Saya tanya dengan kalimat lirih tanpa mengeluarkan air mata.
"Sabarlah" Dialog singkat dengan Kakak sepupu saya yang saat ini tengah di samping adik. Air itu tidak bisa tertahan, sudah sampai di ujung mata saya yang akhirnya tumpah. Kembali istighfar terucap dari mulut saya. Rabb, jangan sekarang. Saya ingin berada di sampingnya di saat terakhirnya.
20.00 salah satu RSU di Surabaya
Detak jantung semakin berdetak kencang. Sangat kencang. Ya Allah, Jangan sekarang, saya nyaris sampai di pelukannya. Kembali saya menangis saat langkah kaki menuju gerbang RS dan bertemu dengan Abang dan Kakak saya. Air di pelipis mata tetap saya tahan.
"Ada di kamar apa Kak?"
“Bangsal saraf A"
"Ekonomi?"
Kakak mengangguk dengan pelan. Ya Allah, hati saya terenyuh. Sakit. Sesak. Saya tau persis kondisi kamar bangsal di RS ini. Dulu Tante saya mendapat perwatan yang kurang intensif padahal kondisinya lagi gawat karena melahirkan. Entah apa alasannya.
"Kamar atas penuh semua" Lanjutnya sembari menjelaskan dengan singkat.
Sepanjang lorong kamar tempat Adik saya berbaring
Keluarga saya yang ada di sana sontak kaget melihat saya yang kusut sekali dengan mata yang masih tampak berair. Beberapa orang memeluk saya. Saya harus tampak kuat di depan mereka, saya harus mengendalikan emosi saya, saya harus bisa mengatasi situasi ini, segala "harus-harus" lainnya yang masih tersusun rapi dalam hati saya harus terealisasi.
"Semuanya akan baik-baik saja" begitulah kalimat saya pada deretan keluarga saya yang berjejer di lorong kamar tempat Adik saya berbaring tentunya dengan imbuhan senyum khas saya yang manis tapi tidak menyaingi gula.
Langkah kaki saya semakin lambat menuju tempat perbaringan itu. Kanan kiri tempat itu sesak dengan penderita yang konon semuanya berhubungan dengan otak. Saya tidak tega bahkan ada yang nyaris semua pernafasannya di bantu oleh alat.
Ya Allah, pemandangan ini menyesakkan hati saya. Sungguh. Ada apa dengan Bangsa saya sampai tidak bisa memberikan yang terbaik untuk mereka yang membutuhkan. Saya yakin deretan pasien yang ada di tempat ini adalah orang-orang yang spesial. Mereka yang kurang beruntung namun masih bersyukur.
Hati ini semakin terenyuh ketika melihat adik gadis saya berbaring lemah dengan oksigen dan cairan infus di tangan kanannya. Nafasnya tersenggal-senggal. Mata tidak di buka sama sekali. Saya peluk erat dia tanpa menumpahkan air mata saya. Saya bisikkan ke telinganya kalimatMu ya Allah, namun masih tidak ada reaksi apa-apa. Saya terus bergeming di telinganya tapi semakin tidak ada respon saya semakin putus asa. Takut ketika malam ini juga akan kehilangannya.
21.00 di Ruang Rawat
Orangtua Adik saya datang. Sengaja Papa menelponnya untuk segera pulang ke Indonesia. Papa benar-benar takut jika terjadi sesuatu. Ibunya pingsan ketika sampai pada ruangan ini. Saya marah besar saat itu. Marah pada siapa saja yang ingin merusak ketegaran saya. Saya ingin semua orang di sana tampak tegar di depan Adik saya walaupun dia dalam keadaan kritis dan tidak tau keadaan di luar kesadarannya. Saya ingin semua air mata terhapus di depan Adik saya karena inilah satu-satunya cara untuk memulihkan semangatnya.
"Bibi, kalau Bibi nangis lagi mending Bibi di luar"
Bibi masih terisak saat melihat Adik saya selepas dari pingsannya. Jujur andai saja saya di posisi Bibi, mungkin juga akan demikan. Tapi saya tidak mau ada air mata di tempat ini. Saya tidak mau kerapuhan itu datang dari keluarga saya. Saya paham Adik lagi berjuang untuk dirinya maka itu saya ingin semua yang di sini ikut membantu perjuangan itu.
Saya cium pipi Papa saat melihatnya tampak kusut memasuki ruangan itu. Saya masih dengan kondisi sok tegar di depannya. Saya paham betul Papa ada pada posisi sulit. Papa adalah satu-satunya orang yang di segani Adik. Saya paham betul bagaimana sepupu saya ini sangat menghormati Papa saya.
"Ceritakan bagaimana kejadiannya Pa"
“Uul, didiagnosa kena kanker otak. Tadi pagi dokter menyarankan untuk pulang saja karena harapan hanya 10%” Papa tampak menyeka air matanya.
“Kamar ini tidak kondusif Pa. Apa tidak sebaiknya pindah?”
“Kalau Uul bertahan dan melewati masa kritisnya, biaya dia akan sangat mahal. Kita pakai kartu kuning* agar biayanya sedikit ringan, makanya di tempatkan di sini”
Astaghfirullah. Lagi-lagi masalah biaya. Begitu mahalkah RS yang ada di Bangsaku ini? Tidak adakah toleransi bagi mereka yang benar-benar membutuhkan? Apakah memang setiap orang miskin yang memilki kartu kuning harus di tempatkan di tempat yang sesak ini? Duh Rabb, Sesak hati ini.
Pukul 23.00, di dalam kamar itu
Dokter jaga memeriksa keadaan pasien dari ranjang satu ke ranjang lainnya. Saya benar-benar mengamati dengan seksama apa yang di lakukan para dokter ini. Saya amat familiar dengan yang namanya infuse, oksigen, jarum suntik, dan seperangkat alat medis lainnya. Bukan karena saya sering masuk RS tapi karena saya sering ikut Papa dinas 17 tahun lalu. Saya beranikan diri bertanya dengan dokter yang kebetulan mengganti infus adik saya.
"Dok, bisa saya bicara sebentar" "Iya mbak, silahkan"
"Sebenarnya adik saya sakit apa? Saya kurang begitu paham bahasa medis yang tertera di papan ini" Saya menunjukkan papan nama yang ada di ujung kasur adik saya.
"Maaf mbak saya hanya dokter jaga saja, besok saja mbak tanyakan langsung pada dokter yang menanganinya biar detail"
Kecewa dengan jawaban itu. Apa salahnya mencoba jabarkan sedikit saja tentang keadaan adik saya. Saya yakin bukan Dokter itu tidak paham adik saya sakit apa, atau bukan Dokter itu tidak berhak berbicara karena memang bukan Dokter yang mengani Adik saya, entahlah apa yang ada di otak Dokter itu. Saya mencoba sabar sebentar menunggu esok hari untuk menanyakan langsung pada Dokter “sesungguhnya”. Namun yang jelas saya semakin yakin kalau Dokter jaga ini tidak professional. Semoga hal yang terjadi pada saya tidak terjadi pada yang lainnya.
2 April 2010, tepat Adzan Shubuh
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Begitula kumandang muadzin masjid RS ini. Ya Allah, engkau berikan kesempatan untuk adik bertahan lebih lama dari perkiraan dokter di sini. Syukur tidak terkira tercurah untukMu Rabb. Terimakasih.
Setelah Adzan saya coba menyuruh Bibi mendampingi adik seraya beristighfar di telinganya. Saya suruh Mamang saya juga mendampingi dan memegang tangan adik dan mencium keningnya. Sebenarnya bukan tanpa alasan saya menyuruh mereka melakukan ini. Adik ditinggal orang tuanya sejak usia 4 bulan, hingga di usia 17 tahunnya ini dia hanya beberapa kali saja berkumpul dengan orang tuanya. Saya yakin dia tidak hanya membutuhkan asupan medis melalui obat-obatan yang menyangkut di tangannya. Bagi saya yang lebih penting dari itu adalah bagaimana sikap orang tuanya terhadap Adik saat ini. Saya meyakini belaian dan kasih serta sayang juga perhatian orang-orang berharganya jauh lebih dia butuhkan saat ini.
Alhamdulillah.
Kejutan luar biasa akhirnya kami dapatkan. Setelah melalui perjalanan panjang sejak jam 6 sore tanggal 30 Maret 2010 hingga saat ini 2 April 2010 dia membuka matanya. Melirik kanan kiri. Walau masih dalam kondisi kritis tentunya. Tapi sungguh ini luar biasa bagi kami. Penantian sejak koma itu terbayar walau hanya tidak lunas seketika. Syukur kami panjatkan bagiMu ya Allah.
Di tempat tidur Adik Jam 08:30
Ada 3 orang dokter dengan senyum yang merekah menghampiri pembaringan Adik saya. Sungguh menyejukkan hati siapapun yang melihatnya.
“Selamat pagi Mbak” Sapa salah satu di antara mereka.
“Pagi Dok” Sengaja saya menyalami mereka semuanya yang di sambutnya dengan hangat sekali.
“Bisa saya bicara dengan salah satu keluarganya?”
“Baik Dok, saya kakaknya”
“Baiklah Mbak, ikut ke ruangan kami setelah ini”
Dokter memeriksa keadaan fisik adik saya. Kaki adik digoyang-goyangkan. Tangan digoyangkan. Mata dicoba untuk dibuka. Lengan dicubit-cubit. Perut ditepuk-tepuk. Entahlah, bagi saya ini pemandangan yang aneh. Sungguh.
Saya bergegas mengikuti langkah dokter-dokter itu. Cepat sekali, membuat saya semakin yakin bahwa langkah kaki seseorang itu menentukan bagaimana kualitas dirinya untuk mencapai tujuan hidupnya. Semakin cepat langkah kakinya ketika berjalan maka semakin cepat pula strategi dia mengatur hidupnya. Luar biasa.
Dokter menjelaskan secara detail dengan menunjukkan hasil Rongen. Bahwa Adik saya memiliki kelainan di otak yang itu sulit dijabarkan secara pasti penyakit apa di otak Adik karena kata dokter kelainan itu terlalu kecil dan tipis. Perlu pengamatan intensif untuk memastikan itu apa. Ada rasa lega karena memang ada kemungkinan ini bukan kanker walaupun itu sedikit. Tim dokter yang terdiri dari 3 orang** ini masih ingin mempelajari dulu hasil rongen dan melihat perkembangan setiap jamnya. Dokter menambahkan bahwa reaksi pembukaan matanya hanya bersifat sementara saja dan sewaktu-waktu berkemungkinan untuk tidur kembali. Dokter juga menjelaskan bahwa ingatannya juga kurang stabil jadi kami diminta hati-hati ketika berkomunikasi dengan dia. Jangan sampai kami memaksakan.
Bada Ashar Masih di ruang rawat
Adik masih membuka matanya. Saya mencoba memasukkan susu melalui infuse yang disalurkan dari hidungnya. Tidak tega rasanya melihat dia tidak berdaya. Seolah saya tidak mengenalinya sama sekali. Sungguh dia adalah sepupu yang memang paling manja. Sepupu yang paling centil dan sedikit endel. Namun itu dulu saat dia masih baik-baik saja.
Saya coba ajak dia berkomunikasi dengan isyarat mata. Saya coba ingatkan dia satu persatu orang yang ada di dekatnya saat itu. Saya minta dia mengedipkan matanya ketika dia paham apa yang saya sampaikan. Selama proses terapi seadanya saya lakukan, itu berlangsung dengan baik sebelum akhirnya Pak Dhe saya yang katanya orang bisa melihat hal-hal ghaib seperti Jin datang.
Pak Dhe menyentuh kaki adik dan menatapa adik saya tanpa senyuman. Kontan adik saya langsung melonjak seolah ingin mengusir beliau. Bagi saya ini wajar terjadi. Mungkin adik lagi ingin istirahat dan tidak mau diganggu. Lagian ingatannya juga belum pulih, mungkin saja dia menganggap Pak Dhe adalah orang asing yang ingin mengganggunya karena memang Pak Dhe tidak mengikuti proses perkenalan yang saya lakukan sebelumnya.
Sayangnya apa yang saya pikirkan berbeda dengannya. Beliau bilang bahwa Jin itu ada di samping Adik. Dia ingin mengganggu Adik makanya Adik berontak dan melotot ke Pak Dhe. Jin itu tidak mau keluar. Sungguh hati saya tersayat. Kenapa harus dicampur adukkan dengan hal-hal mistis, teriak batin saya. Ini murni karena Adik sakit fisik. Ini murni karena pengaruh otaknya. Tapi saya sendiri. Orang-orang yang ada di sana sulit meyakini pernyataan saya. Saya kembali melemah di sudut ruangan dengan mata yang tidak dapat terbendung.
Maghrib di kantin RS
Sepupu saya yang lainnya mulai berdatangan. Semua keluarga nyaris berkumpul. Adik ini adalah anak pertama dari Mamang***, saudara Papa yang ke 5. Dari Papa saya memiliki 15 orang sepupu. Uul ini adalah cucu ke 9 Kakek-Nenek saya.
Bersambung…
Keterangan : *Julukan yang di pakai orang-orang di Desa saya untuk kartu yang biasanya di gunakan oleh orang-orang tidak mampu yang di rekomndasikan oleh kepala Desa atau pemerintahan setempat. **Dokter yang terdiri dari 2 orang ahli syaraf dan seorang psikiater. ***Julukan untuk adik Ayah dalam keluarga saya
Oleh: Luluk Evi Syukur (Profile)
Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 400 Comments (0)Subscribe to this comment's feedWrite commentNewer news items:
Older news items:
|
| Last Updated on Sunday, 25 July 2010 20:13 |
Artikel Islami
Bertemunya Ramadhan dan Agustus
Dalam dunianya sendiri, seorang anak muda sedang ber-tafakur tentang hidupnya. Ia ingat, bahwa pada saat itu, Agustus telah menjumpainya dengan membaw...
Tulisan Bebas
Renungan Ramadhan
Rabb…
Mohon ampuni hambaMu yang lemah iman ini,
Tak ada yang bisa hamba lakukan dengan ketidakbaikan yang jelas ada di depan mata hamba, sebab hamba sen...
Sebuah Kisah
Menukar Nasibmu dengan Dia
Malam yang berselimut awan hitam pekat, setebal angkuhnya yang merasa dia hebat mungkin, hujan baru saja berhenti, tadi saat masih taraweh memang sempat mengguyur sesaat, aku dan teman teman asik di k...
Kajian Fikih
Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya’ban
Di surau-surau sederhana, di mushala-mushala yang anggun, dan di masjid-masjid yang gagah, terdengar informasi bahwa akan diadakannya acara malam Nisf...
Jajak Pendapat
Puisi
- Bangkai Rindu
- Surat Wasiat Untukmu
- Jikapun Aku Punya Pilihan
- Ku tak Berhak Menghitung Diri
- Adikku Sayang, Adikku Malang
- Saat Pamitmu
- 65 Tahun Merdeka
- Untukmu Cinta
- Meyakinkan Cinta Padamu Dinda!
- Kebaikan dan Keikhlasan yang Tertawa
- Doa Mengalun Lembut di Atas Sajadah
- Dua Pecinta Sedang di Mabuk Rindu
- Caraku Mengingatmu
- Andai Aku Bisa Itu!
- Dalam Lamunan Perihku
- Nikmat Tuhanmu
- Hanya Buat Kau Kecewa
- Belajar dari Bulan Sabit
- Eksperimen Fisika dan Hidupku
- Dengarkan Cerita Hujan
- Berbicara Tentangmu
- Apakah ini Negaraku?
- Ibu, Aku Layak Menjadi Anakmu
- Terimakasih
- Kau Tahu?



Saat itu ba'da maghrib, 31 Maret 2010 