Template Tools
Kondektur Kerempeng yang Berjuang Mati-matian PDF Print E-mail
Written by Adi Nurseha   
Thursday, 22 July 2010 15:26

Malam menyemai indah, ditemani oleh bulan yang ranum, dihadiri oleh bintang gemintang yang genit di atas sana. Angin mengibas-ngibas rambutku dengan nada jazz dan dangdut. Langkah kakiku pun biasa-biasa saja, tidak tergopoh-gopoh apalagi tergesa-gesa. Aku ingin menikmati senyuman malam atau tawanya kegelapan, setelah aku diteror habis-habisan oleh udara yang panas dan ganas.

 

Pada siang itu, dalam keadaan puasa sunnah hari Senin, aku harus berperang habis-habisan dengan rasa haus yang berubah menjadi makhluk liar yang menakutkan, ditangannya terdapat pedang samurai yang siap menebas leherku, tanpa ampun. Sengatan matahari

pada jam 11 siang pun bagaikan gigi drakula yang menyedot semua cairan di tubuhku, hingga lunglai dan lemas lah aku dibuatnya. Sorotan tajam cahayanya tak mampu kububuhkan menjadi kekuatan, seperti batrai yang menyerap energi panas, malah sebaliknya, aku harus bertekuk lutut dan menyerah olehnya.

 

 

Siang yang melelahkan, empat perjalanan aku tempuh tanpa bernafas. Dari flatku yang berada di kawasan Hayy Sabie’ (District 7th) menuju Swessry B, dari Swessry B melanggang ke Perpustakaan Indonesia (PMIK), dari perpustakaan kembali lagi ke Swessry B, dan terakhir dari Swessry B menyantroni Wisma Jakarta (KPJ). Aku ingin mengondisikan tubuhku yang tercabik-cabik oleh sengatan matahari, dan sekarang malam ini aku ingin dimanja dengan angin malam yang sejuk, yang mendesir dan merasuk ke seluruh organ tubuh, menari-nari di jiwa, dan menghasilkan senyuman kesyukuran atas nikmatnya malam ini, oleh karena itu langkah kakiku gemulai dan riuh rendah, seperti jalannya penganten baru.

 

Setelah dari KPJ, aku pulang menaiki el-tramco (semacam angkutan umum atau angkot) menuju flatku. “Mobil el-tramco yang unik” bisik hatiku. Bagaimana tidak unik, jika kondisi el-tramco yang kunaiki sudah tidak layak lagi sebagai angkutan umum yang nyaman dan tentram, jika dinding-dinding mobil tersebut sudah terkelupas kulitnya, seperti ular yang berganti kulit di musim senjanya. Bangku-bangkunya sudah reot di makan usia, bahkan bangkunya tampak bolong-bolong yang menjadi sarang tikus liar yang menjijikan. Suara mobil pun mengedan kacapean. Jika ada lobang di jalan raya, maka penumpang di dalam mobil tersebut terkocok-kocok perutnya, tergelojot, dan pontang-panting. Aku saja takut, jika mobil tersebut tiba-tiba ambruk di tengah jalan. Mengerikan bukan Kawan?.

 

“Wahid Sabie’” aku sodorkan uang recehan sebesar 1 pound sebagai ongkos, dengan sedikit senyuman yang kulemparkan kepada kondektur yang kerempeng. Wajahnya dekil seperti belum mandi satu bulan. Bajunya kumal tak karuan. Kerut muka dan sorotan matanya menyimpan sejuta permasalahan yang sedang ia hadapi.

 

Mobil el-tramco melaju dengan amat santun, mengerang dan mengigil di tengah balutan gelapnya kota Kairo. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Jalan raya pun lenggang dan sepi, hanya dipenuhi oleh mobil-mobil yang terbirit-birit mengejar waktu karena mengantuk, dan para gelandangan yang sibuk membenahi selimut kotornya untuk tidur malam ini di depan pertokoan yang sudah ditutup dengan congkaknya. Kumelihat supir yang tenang dan nyaman mengendari el-tramco yang hampir ambruk ini. Di sampingnya terdapat seorang bapak setengah baya yang gendut, yang mungkin menghabiskan 10 sampai 15 isy sekali makan (isy: semacam roti yang terbuat dari gandum dan ini sebagai makanan pokok penduduk Mesir), untungnya mobil ini tidak terjungkal ke depan. Tepat di depanku duduk manis manusia hitam dari ras negro, tangannya memijat-mijat jidatnya yang gosong itu. Dan disampingnya seorang kondektur yang berumur 35 tahunan. wajahnya menghadap ke belakang, ia melamun anggun terperikan, aku tak tahu apa yang dilamuninya, apakah tentang anak-anaknya di rumah, atau tentang hutang-hutangnya yang menumpuk seperti gunung Jaya Wijaya Papua. Tiba-tiba…

“Ya Allah….” Pekikku tak tertahankan. Jantung ini mau copot sekonyong-konyongnya. Debarannya pun amburadul tak karuan seperti kentongan di pos kamling ketika ada maling. Mataku terpana melihat sesuatu yang mengerikan. Tak sanggup aku melihat kejadian yang sungguh memeras perasaan. Aku ingin bangkit, dan segera membelainya dengan kasih sayang dan kenyamanan.

 

Tahukah Kawan, apa yang terjadi? Kondektur kerempeng yang duduk di samping pintu itu terjatuh dengan keras ke aspal, di saat mobil sedang berjalan santai. Ia terjatuh seperti ikan besar yang meloncat ke tanah dengan bunyi “kedebug”, terguling-guling, dan terjungkal layaknya pameran sirkus yang sudah ahli. Ah… aku tak sanggup menceritakannya. Seisi penumpang el-tramco menjerat-jerit, padahal tak ada satu pun penumpang wanita, bahkan cemas mewarnai seisi penumpang el-tramco.

 

Sertamerta sang supir turun, langsung membangunkannya di tengah jalan. Dituntunnya sang kondektur oleh sang supir, perlahan-lahan, sambil mata sang supir mengintai-intai ke seluruh tubuh sang kondektur, ia takut jika ada luka parah yang berjoget ria di kulit sang kondektur.

 

“Kau tak apa-apa?” cemas sang supir dengan nada bersalah yang berlebih.

 

“Tidak, aku tak apa-apa. Ayo kita teruskan perjalanannya” ucap sang kondektur sembari membersihkan debu dan kotoran yang bergelantungan di bajunya. Sebuah kata yang penuh semangat. Ia tak memikirkan kondisi di tubuhnya, namun yang dipikirkan bagaimana mengais rezeki sebanyak-banyaknya di malam ini.

 

“Silahkan duduk di depan saja” sang supir mulai memberi perhatian.

 

“Sudah-sudah, tak usah mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja ko” ucap sang kondektur menenangkan hati sang supir. Walaupun badannya kerempeng, ia amat kuat sekali. Tak tampak ada kesakitan, dan bahkan tak ada luka sedikitpun. Aku pun heran dengannya.

 

Mobil pun kembali berjalan dengan perlahan-lahan. Aku terkesima dengan kejadian barusan. Sang kondektur tersebut berjuang mati-matian demi mencari nafkah. Aku tak menyalahkan sang kondektur karena ia tak sekolah tinggi waktu remajanya, sehingga ia hanya bisa menjadi kondektur. Banyak permasalahan yang ia hadapi sepanjang hidupnya, sehingga ia tidak bisa bersekolah tinggi seperti kebanyakan orang di atas muka bumi ini. Namun, aku amat berapresiasi dengan usaha kerasnya demi mensejahterakan anak dan istrinya. Bukankah itu wujud cinta, Kawan!, dan bukankah ia pahlawan yang berjuang habis-habisan, Kawan!.

 

Mata sang supir nanar, aku yakin masih ada sedikit rasa sakit di dalam hatinya. Ia terbengong seakan ia tak percaya kejadian barusan. Namun ia masih bersemangat, dan memekikkan teriakan “Sabie’, Sabie’, Sabie’”.

 

10:06, 22 Juli 2010

Oleh: Adi Nurseha (Profile)

Comments (0)

Subscribe to this comment's feed

Write comment

smaller | bigger

busy
Last Updated on Thursday, 22 July 2010 15:40
 

Artikel Islami

Bertemunya Ramadhan dan Agustus

Bertemunya Ramadhan dan Agustus

Dalam dunianya sendiri, seorang anak muda sedang ber-tafakur tentang hidupnya. Ia ingat, bahwa pada saat itu, Agustus telah menjumpainya dengan membaw...

Read more...
More:

Tulisan Bebas

Renungan Ramadhan

Renungan Ramadhan

Rabb…
Mohon ampuni hambaMu yang lemah iman ini,
Tak ada yang bisa hamba lakukan dengan ketidakbaikan yang jelas ada di depan mata hamba, sebab hamba sen...

Read more...
More:

Sebuah Kisah

Menukar Nasibmu dengan Dia

Menukar Nasibmu dengan Dia

Malam yang berselimut awan hitam pekat, setebal angkuhnya yang merasa dia hebat mungkin, hujan baru saja berhenti, tadi saat masih taraweh memang sempat mengguyur sesaat, aku dan teman teman asik di k...

Read more...
More:

Kajian Fikih

Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya’ban

Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya’ban

Di surau-surau sederhana, di mushala-mushala yang anggun, dan di masjid-masjid yang gagah, terdengar informasi bahwa akan diadakannya acara malam Nisf...

Read more...
More: