Template Tools
Carilah Dia PDF Print E-mail
Written by Rosa Rahmania   
Wednesday, 21 July 2010 14:05

Pernahkah kau tahu, seperti apa rupa hidup ini, andainya ia punya wajah? Terlintaskah di benakmu, ketika masalah menghampirimu, “Hei, kau dari mana? Mengapa kau datang dan mengapa datang padaku?” Dan, pernahkah, kita sunyikan sejenak diri kita dari hiruk pikuk dunia, untuk sekedar berkaca tentang “sinetron” kita hari itu?

 

Hari kemarin, hari ini, dan hari esok, tak akan ada bedanya jika dalam hari-hari itu tak di-indah-kan dengan introspeksi diri. Semua hari seolah sama saja, setiap hari seolah hidup itu begini-begini saja, seolah slow motion.

 

Cobalah, untuk menjadikan hidup ini sebagai sebuah petualangan. Hidup akan penuh dengan semangat berapi-api, dengan judul “Pencarian Tuhan”. Petualangan terbesar sepanjang sejarah manusia, adalah petualangan mencariNya. Mencari Tuhan dalam hidup, seperti layaknya anak pramuka yang sedang menjelajah hutan.

 

Kau tahu kan, hutan itu lebat dan gelap, seperti itulah hidup. Dan kau tahu juga, tak pernah ada rute jalan di dalam hutan yang mulus dan lancar tanpa ada rintangan, bahkan tak pernah ada hunian mewah yang akan jadi tempat tinggal kita. Semua semu, sebab semua hanya “fasilitas” bagi kita untuk mencari jalan keluar. Seolah dalam hutan yang lebat itu kita selalu merindukan adanya cahaya yang tembus dari celah-celah pepohonan yang tinggi menjulang. Seperti itulah cahaya dariNya. Tak mungkin kita dapat cahaya itu kalau sebelumnya kita tak berusaha mencari. Mungkin saja sekarang ini kita berada di tempat yang gelap, maka pandanglah hutan itu sejauh kau bisa memandang, lihat dan perhatikan dimanakah tempat yang mungkin kau bisa menemukan cahayaNya, kemudian datangi, maka kau akan dapatkan. Setelah kau dapat, jangan dilepaskan lagi, ikuti cahayaNya kemanapun Dia akan membawamu pergi. Selalulah rindu dengan cahaya-cahaya itu.

 

Cahaya, hidayah, ilham, pengetahuan, semua pemberianNya inilah yang jadi penuntun kita mencariNya, mencari zat yang kasih sayangNya melebih amarahNya, yang serba Maha, yang entah apa lagi, tak bisa diungkapkan goresan kata, sebab Dia begitu indah.

 

Dia ciptakan kita dan segala yang ada, karena Dia ingin kita kenal, Dia ingin memperkenalkan keindahanNya yang sejati pada makhluk terbaikNya ini. Dia ingin tunjukkan Rahman dan RahimNya yang tak tertandingi itu.

 

Maka kawan, carilah Dia, carilah agar kau bisa tenang arungi samudera kehidupan yang sebenarnya penuh tipuan ini. Dunia yang pengetahuan di dalamnya hanya ibarat air yang tersisa di jari kita ketika kita celupkan jari itu ke dalam air laut, sungguh sedikit dan di tempat aslinya masih banyak yang belum Dia berikan pada kita.

 

Carilah Dia, di tempat manapun yang sekiranya akan bisa kau jangkau. Carilah Dia, kapan saja kau suka, di waktu-waktu yang akan kau rasa bisa begitu dekat denganNya. Carilah Dia, pada siapa saja yang kau temui dan kau ajak bicara, siapa tahu Dia ijinkan orang itu memancarkan cahaya ilahiNya, agar kau bisa kembali belajar mengenalNya, Carilah Dia, melalui hal-hal yang Dia sukai untuk kau kerjakan, sebab di dalamnya kau akan temukan rahasia dariNya yang akan jadi pengetahuan baru untukmu tentangNya.

Carilah Dia, melalui kekasihNya, Rasulullah Saw., manusia teragung sepanjang zaman. Yang akhlaknya adalah Quran, yang mendapat pengajaran langsung dariNya, yang di akhir hidupnya mengkhawatirkan umatnya dan yang pribadinya sangat mengesankan, bahkan bagi orang yang memusuhinya sekalipun. Kelak, di hari kiamat, umat Beliau-lah yang dipersilahkan masuk surga terlebih dahulu. Betapa istimewanya Rasulullah Saw. di hadapanNya. Indahnya bila bisa kita rasakan kerinduan membuncah pada manusia termulia ini.

 

Kawan, carilah Dia, carilah Dia yang telah ciptakanmu, carilah Dia yang mengurusmu sejak kau belum apa-apa, sampai menjadi seperti sekarang ini. Dia, yang Maha Agung, yang Maha Melihat tapi tak terlihat, yang Maha Besar, yang tak tertandingi, dan Maha Segalanya. Ah, indahnya Dia.

 

Pencarian yang akan mewarnai hidup, sampai titik finis nanti, sampai Dia ijinkan kita berada di depan gerbang surga untuk menemuiNya, amin.

 

 

Salib dan umat Kristen, ujung ke ujung, sudah kuuji.

Dia tidak di Salib.

Aku pergi ke kuil Hindu, ke Pagoda kuno.

Tidak ada tanda apa pun di dalamnya.

Menuju ke pegunungan Herat aku melangkah,

dan ke Kandahar Aku memandang.

Dia tidak di dataran tinggi

maupun dataran rendah. Dengan tegas,

aku pergi ke puncak gunung Kaf (yang menakjubkan).

Di sana cuma ada tempat tinggal

(legenda) burung Anqa.

Aku pergi ke Ka'bah di Mekkah.

Dia tidak ada di sana.

Aku menanyakannya kepada Avicenna (lbnu Sina) sang filosof

Dia ada di luar jangkauan Avicenna.

Aku melihat ke dalam hatiku sendiri.

Di situlah, tempatnya, aku melihat dirinya.

Dia tidak di tempat lain.

(Jalaluddin ar-Rumi)

 

Oleh: Rosa Rahmania (Profile)

Comments (0)

Subscribe to this comment's feed

Write comment

smaller | bigger

busy

Newer news items:
Older news items:

 

Artikel Islami

Bertemunya Ramadhan dan Agustus

Bertemunya Ramadhan dan Agustus

Dalam dunianya sendiri, seorang anak muda sedang ber-tafakur tentang hidupnya. Ia ingat, bahwa pada saat itu, Agustus telah menjumpainya dengan membaw...

Read more...
More:

Tulisan Bebas

Renungan Ramadhan

Renungan Ramadhan

Rabb…
Mohon ampuni hambaMu yang lemah iman ini,
Tak ada yang bisa hamba lakukan dengan ketidakbaikan yang jelas ada di depan mata hamba, sebab hamba sen...

Read more...
More:

Sebuah Kisah

Menukar Nasibmu dengan Dia

Menukar Nasibmu dengan Dia

Malam yang berselimut awan hitam pekat, setebal angkuhnya yang merasa dia hebat mungkin, hujan baru saja berhenti, tadi saat masih taraweh memang sempat mengguyur sesaat, aku dan teman teman asik di k...

Read more...
More:

Kajian Fikih

Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya’ban

Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya’ban

Di surau-surau sederhana, di mushala-mushala yang anggun, dan di masjid-masjid yang gagah, terdengar informasi bahwa akan diadakannya acara malam Nisf...

Read more...
More: