Template Tools
Al-Qur’an Bacaan Favorit Kita PDF Print E-mail
Written by Adi Nurseha   
Tuesday, 08 December 2009 14:28

Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu

Dalam artikel tentang “Kitab Al-Qur’an sebagai Pemersatu Umat Manusia”, penulis telah mengungkapkan kedudukan al-Qur’an terhadap kitab-kitab samawi yang terdahulu. Dari sanalah terdapat beberapa kesimpulan yang penulis temukkan. Selain itu juga semua kesimpulan itu terdapat dalam satu kata yakni dalam surat al-Maidah ayat 48 yaitu “batu ujian”. Lalu apakah kesimpulan dan arti yang terdapat dari kata “batu ujian”, setidaknya ada dua kesimpulan yang terungkap:

Al-Qur’an sebagai pengawas dan pemelihara. Layaknya seorang pengawas dan pemelihara maka ia mempunyai  wewenang dan memiliki kekuasaan terhadap sesuatu. Selain itu juga pengawas dan pemelihara lebih bersifat menyaksikan sesuatu, memelihara dan mengawasinya. Contohnya saja seorang pengawas Ujian Nasional (UN), maka ia akan menyaksikan apakah ada peserta yang melanggar aturan yang sudah ada, kemudian ia pun akan memelihara suasana dan iklim ujian yang sedang berlangsung, dan bahkan mengawasinya agar peserta ujian bersikap jujur dalam mengerjakan soal-soal.

Begitupun al-Qur’an, al-Qur’an sebagai “batu ujian” terhadap kitab-kitab samawi yang lalu. Artinya al-Qur’an sebagai  saksi kebenaran (Menyaksikan/Menguatkan) kandungan kitab-kitab yang lalu, hal ini terjadi jika apa yang terdapat dalam kitab-kitab yang lalu itu tidak bertentangan dengan kandungan al-Qur’an. Akan tetapi jika sebaliknya, maka al-Qur’an menjadi saksi kesalahan (Mengawasi) isi kitab-kitab yang lalu, hal ini berlaku jika kitab-kitab yang lalu bertentangan dengan redaksi al-Qur’an.

Dengan dua fungsi kesaksian itulah (kebenaran dan kesalahan), al-Qur’an bisa menjadi kitab pemelihara. Dalam kedudukannya sebagai pemelihara, al-Qur’an memelihara dan mengukuhkan prinsip ajaran ilahi secara menyeluruh, dengan artian al-Qur’an telah mencakup semua kitab-kitab samawi yang lainnya. Dan juga al-Qur’an telah mengandung kemashlahatan dan kedamaian yang abadi bagi seluruh umat manusia, kapan dan dimanapun. Bukan hanya dikhususkan untuk umat Islam saja tetapi seluruh makhluk di bumi ini, baik itu manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan atau bahkan benda mati sekalipun. Sehingga semuanya dapat merasakan kehebatan dan kedahsyatan mukjizat Nabi Muhammad Saw. ini.

Selanjutnya dalam dua fungsi itu pula al-Qur’an membatalkan apa yang perlu dibatalkan dari hukum-hukum yang terdapat dalam kitab-kitab yang lalu. Perlu diketahui oleh kita, bahwa kitab-kitab yang lalu hanyalah berlaku untuk umat tertentu dan masa tertentu pula. Sehingga banyak hukum-hukum yang tidak berlaku dan tidak sesuai untuk zaman sekarang, karena kitab-kitab yang lalu hanyalah bersifat temporer bagi masyarakat tertentu saja dan tidak berlaku lagi untuk diterapkan pada masyarakat berikutnya.

Al-Qur’an sebagai kitab yang terpelihara. Kitab yang sungguh istimewa ini sudah terbukti kekuatan dan kesuciannya. Hingga saat ini dan detik ini pun al-Qur’an tidak ada satu huruf  yang kurang atau hilang. Kitab suci ini telah dipelihara langsung oleh Allah SWT. sehingga tidak perlu diragukan lagi keterjagaan al-Qur’an ini. Keterjagaan tersebut antara lain; terpelihara redaksinya, kata dengan kata, bahkan huruf demi huruf.

Pada masa Rasulullah Saw. pemeliharaan al-Qur’an hanyalah sebatas hafalan para sahabat-sahabat saja. Memang sih pada masa Rasulullah Saw. sudah ada tulisan, namun tulisan al-Qur’an pun masih terpisah-pisah. Setiap kali diturunkannya ayat-ayat al-Qur’an, Nabi Saw. menyuruh menghafalnya, dan menuliskannya di batu, kulit binatang, pelepah kurma, dan apa saja yang bisa disusun dalam satu surat. Nabi Saw. menerangkan tertib urut ayat-ayat itu. Nabi mengadakan peraturan, yaitu Al Qur'an sajalah yang boleh dituliskan, selain dari al-Qur'an, Hadits atau pelajaran-pelajaran yang mereka dengar dari mulut Nabi, dilarang menuliskannya. Larangan itu dimaksudkan agar al-Qur’an tidak tercampur baur dengan selainnya.

Pada masa ini hampir seluruh sahabat Nabi Saw. dapat menghafal secara keseluruhan isi al-Qur’an. Kendatipun bangsa Arab pada waktu itu masih banyak yang buta huruf, tetapi mereka mempunyai ingatan yang amat kuat. Pegangan mereka dalam memelihara dan meriwayatkan sya'ir-sya'ir dari pujangga-pujangga dan penyair-penyair mereka, ansab (silsilah keturunan) mereka, peperangan-peperangan yang terjadi di antara mereka, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dan kehidupan mereka tiap hari dan lain-lain sebagainya, adalah kepada hafalan semata-mata. Sehingga hafalan para sahabat Nabi Saw. pun tak dapat diragukan lagi.

Setelah Rasulullah Saw. wafat dan pada pemerintahan Khulafar Rasyidin inilah al-Qur’an yang masih terpisah-pisah disatukan dan dijadikan mushaf. Hal ini dikarenakan kekhawatiran Umar bin Khaththab pada saat itu akan banyaknya para hafiz al-Qur’an yang mati syahid di medan peperangan. Contohnya saja dalam perang Yamamah. Tentera Islam yang ikut dalam peperangan ini, kebanyakan terdiri dari para sahabat dan para panghafal al-Qur'an. Dalam peperangan ini telah gugur 70 orang penghafal al-Qur'an. Bahkan sebelum itu gugur pula hampir sebanyak itu dari penghafal al-Qur'an di mana Nabi pada suatu pertempuran di sumur Ma'unah dekat kota Madinah. Oleh karena itulah al-Qur’an pun dikumpulkan dan dimushafkan agar selalu terjaga.

Sehingga pada perkembangannya al-Qur’an sudah dihafal oleh jutaan umat Islam di seluruh penjuru dunia. Bahkan dengan diiringi oleh kemajuan teknologi, al-Qur’an pun sudah ada di disket dan di CD. Setiap kesalahan yang disengaja atau tidak, segera akan ditegur oleh sekian banyak orang serta lembaga yang benar-benar mengerti betul tentang teks al-Qur’an. Bukan hanya teksnya saja yang dijaga dari kesalahan-kesalahan, akan tetapi begitu pula dengan tafsir dan kandungan al-Qur’an masih terjaga hingga saat ini. Bila ada penafsiran yang jauh menyimpang, maka akan tampil para pakar untuk meluruskan dan membantahnya oleh para ulama dan cendikiawan. Semua ini sejalan dengan firman Allah SWT. Yang artinya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS. Al-Hijr: 9)

Dari dua kesimpulan di atas kita akan memahami betul betapa hebatnya al-Qur’an yang berada di tengah-tengah kita saat ini. Namun sayangnya masih banyak di antara kita yang masih cuek dengan al-Qur’an, dan masih banyak pula yang enggan untuk membaca apalagi memahami dan mentadaburi maknanya. Sudah seharusnya dan selayaknyalah kita yang mengaku sebagai umut Islam dan bahkan sudah jelas-jelas mengaku beragama Islam untuk meninggikan al-Qur’an sebagai bacaan favorit kita sehari-hari. Yuk!! Kita biasakan membaca al-Qur’an di mana pun dan kapan pun.

Comments (0)

Subscribe to this comment's feed

Write comment

smaller | bigger

busy
 

Artikel Islami

Bertemunya Ramadhan dan Agustus

Bertemunya Ramadhan dan Agustus

Dalam dunianya sendiri, seorang anak muda sedang ber-tafakur tentang hidupnya. Ia ingat, bahwa pada saat itu, Agustus telah menjumpainya dengan membaw...

Read more...
More:

Tulisan Bebas

Renungan Ramadhan

Renungan Ramadhan

Rabb…
Mohon ampuni hambaMu yang lemah iman ini,
Tak ada yang bisa hamba lakukan dengan ketidakbaikan yang jelas ada di depan mata hamba, sebab hamba sen...

Read more...
More:

Sebuah Kisah

Menukar Nasibmu dengan Dia

Menukar Nasibmu dengan Dia

Malam yang berselimut awan hitam pekat, setebal angkuhnya yang merasa dia hebat mungkin, hujan baru saja berhenti, tadi saat masih taraweh memang sempat mengguyur sesaat, aku dan teman teman asik di k...

Read more...
More:

Kajian Fikih

Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya’ban

Hukum Memperingati Malam Nisfu Sya’ban

Di surau-surau sederhana, di mushala-mushala yang anggun, dan di masjid-masjid yang gagah, terdengar informasi bahwa akan diadakannya acara malam Nisf...

Read more...
More: